Senin, 07 Mei 2012

PENGHUNI NEGERI LANGIT

Seperti burung-burung nazar berebut bangkai di padang pasir gersang, demikian orang-orang kelaparan berebut makanan di perjamuan si kaya penuh perhitungan. Ini kah dunia yang Engkau prosakan buat hamba-Mu? Atau ini hanya sepenggal kisah tak berujung? Kalau benar, kenapa Engkau istimewakan untuk hamba-Mu yang tak berdosa?
            Itulah yang kini terjadi pada tanah air yang malang ini. Rakyat terjajah di Negara sendiri. Apa yang bisa di perbuat anak negeri ini, bila hanya ada keegoisan penguasa yang seenaknya menghisap darah rakyat. Pajak melambung, harga lebih tinggi ketimbang awan, uang hanya tersisa nomina. Dan harga diri sudah tidak berarti. Katanya, negeri ini rakyatnya hidup makmur dan bahagia. Orang-orang yang memanggil negeri ini sebagai Negeri Langit. Negeri penuh dengan kebahagiaan karena terbangun oleh imajinasi.
            Tapi itu sekedar kamuflase. Di dalamnya penuh dengan kebohongan. Rakyatnya terkena busung lapar, mereka menggantungkan asa, itupun kalo masih punya asa. Anak jalanan yang seharusnya menjadi penerus bangsa masih menumpuk di jalan-jalan kota. Kadang rakyat bimbang, terlintas dalam benak, kenapa Tuhan menimpakan cobaan seperti ini? Sangat menyebalkan. Tapi apa mau di kata?, rakyat sudah terjajah di negeri sendiri.
            Hari ini Aci dan ke lima temannya berjalan di negeri tergadaikan yang debu-debunya bertebaran, asap knalpot menjadi raja jalanan kota besar ini, sambil melihat orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Ada anak kecil, ia dekil, bau, dan pakaiannya compang-comping. Ditangannya ada tamborin tua dari tutup botol bekas. Dia menghampiri mobil mewah melintas, mengharap sang pemiliknya berkenan memberikan recehan. Seorang laki-laki separuh baya dari dalam mobil mengulurkan tangannya , koin lima ratusan di berikannya kepada sang petualang jalanan itu.
            Yah, Aci menyebutnya petualang, Aci salut dengan perjuangannya untuk mendapatkan sesuap nasi penyambung hidupnya. Tiba-tiba….
            “Kenapa Ci?” Tanya Ukhwa salah seorang teman Aci saat melihat Aci memandangi anak jalanan tadi dengan pandangan menerawang.
            “Hmm…kasihan anak itu, seharusnya dia sekolah agar tak sebobrok bangsa ini, tapi jalan hidupnya memaksanya untuk menjadi penghuni jalanan”. Jawab Aci merasa iba
            “Mau di apa lagi Ci, bangsa ini tak dapat melihat penghuninya dimana pun penghuninya itu berada” Kata Bian menimpali
            Aci dan teman-temannya pun tetap berjalan sambil mencari penginapan, sampai ketika mereka mendapatkan penginapan yang sederhana. Malamnya pun, Aci keluar bersama Ukhwa kembali melakukan penjelajahannya di kota besar itu. Kini mereka menemui seorang yang lebih parah dan mengenaskan dari seorang anak yang tadi siang di lihatnya.
            Seorang wanita yang sudah tak tampak muda, mengenakan pakaian mini, ia berjalan dikeremangan malam. Make up yang ia kenakan tak cukup mampu menyembunyikan guratan diwajahnya. Ada-ada saja cara rakyat di negeri yang katanya seperti Negeri Langit itu untuk menyambung hidup. Di usia yang matang, tak seharusnya dia mengorbankan diri berlumuran dosa. Wanita itu masih mencoba menarik manusia-manusia yang haus akan kenikmatan sesaat dengan magnet yang sudah tak menarik lagi.
            Aci dan Ukhwa pun memasuki warung lalapan. Setelah memesan, Aci kembali melihat keluar warung. Cahaya matanya tertuju pada seorang kakek yang tua renta mengais-ngais bak sampah. Tiap sampah yang dapat di daur ulang kakek itu mengambilnya dan menyimpannya di karung yang berada tepat di punggungnya yang sudah mulai membungkuk. Bahkan nasi basi yang ada dalam kotaknya pun di ambil untuk mendaur ulang tenaganya. Seperti beberapa hari belum makan, sang kakek melahapnya dengan semangat.
            “Alhamdulillah, rejeki masuk lagi ke perut” Ujar si kakek saat selesai makan malam di samping bak sampah.
Aci pun hampir menitikkan air mata melihat kejadian itu. “Sekejam itu kah hidupnya, hingga makan pun dia ambil dari bak sampah” gumam Aci. Dia pun tak jadi makan di warung itu, dia membungkusnya begitu pun dengan Ukhwa. 4 bungkus Aci pesan. Setelah pesanan sudah ada, Aci pun berlari kecil menghampiri kakek tadi dan memberikan 2 bungkus makanan yang di belinya tadi.
“Makasih Nak, 2 bungkus ini akan menjadi makanan kakek 2 sampai 3 hari kedepan” ujar kakek sambil bersalaman dengan Aci
“Haaa…3 hari? Lama amat kek?” kata Aci heran
“Yaaa…mau gimana lagi nak, hidup di kota besar seperti ini sangat susah. Mau minta bantuan pemerintah, mikir dulu. Jangan kan dibantu, dilirik ajah syukur banget deh” Terang si kakek.
“ya udah, ini Aci punya sedikit rejeki. Aci bagi ke kakek dikit. Maaf ya kek dikit doank” kata aci sambil mengeluarkan lembar seratus ribuan
“Maksih banyak nak, ini bagaikan jutaan di genggaman kakek” ucap kakek berlinang air mata.
Aci pun meninggalkan tempat kakek tadi, dia dan Ukhwa kembali menjelajahi kota besar yang penuh dengan kebohongan itu. Aci dan Ukhwa menyusuri jalanan kapitalis, mereka percaya, jalanan ini hanya untuk kendaraan yang mewah, bukan dokar atau becak. Mereka pun melihat lelaki remaja berjalan menantang sudut jalan. Jeansnya robek, anting tertancap di telinga, dan tato tak berwujud. Dia mencegat kendaraan yang sedang melintas dengan sebatang celurit. Aci pun heran, bagaimana seorang pemuda bisa menjadi penerus bangsa, bila yang ada dalam benak mereka hanyalah bagaimana cara mencari duit dengan gampang tak berkeringat. Hah, lagi-lagi nalar bangsa kita sudah bobrok. Aci dan Ukhwa melihat kejadian itu pun langsung menelpon polisi setempat, biar polisi yang mengurus semuanya.
Merekapun melanjutkan perjalanan, lagi-lagi dunia tak memihak pada rakyat kecil. Aci dan Ukhuwa melihat seorang ibu menggendong anaknya yang tengah sakit parah. Muka pucat, badan kurus gemetar itulah gambaran kecil dari kondisi anak itu. Sang ibu berlarian mencari pertolongan, tapi entah terbuat dari apa nurani orang kelas atas sekarang, hingga tidak ada yang peduli ratapan minta tolong ibu itu. Aci dan Ukhuwa segera menghampiri ibu itu. Aci mengambil anak itu dari gendongan ibunya, Ukhuwa mencari angkot dan ibu itu mengikuti Aci sambil menangis.
“Wa, mana angkotnya? Cepaaaat…!” Teriak Aci panik karena melihat anak yang di gendongnya menggigil
“Ayok sini cepetan” Balas Ukhuwa yang dah berhasil mendapatkan angkot
Aci dan si ibu berlarian menuju angkot. Di dalam angkot pun Aci yang dari tadi melepaskan jaketnya untuk anak itu sangat panik karena melihat bibir anak yang di pelukannya mulai membiru.
“Lebih cepat pak” perintahnya ke supir angkot
Sesampainya di rumah sakit, Aci langsung ke UGD, Ukhuwa mengurus angkot tadi dan si ibu pun berlari ke kamar perawat.
“Susteeeeeeeeeeeeeer, tolong anak saya” teriak si ibu menangis.
Disinilah kekurangan dari pihak rumah sakit, melihat pasien yang tidak mampu, kerja nya asal-asalan. Seakan-akan mereka punya prinsip “Tidak ada uang, nyawa pun melayang”. Para perawat asyik sekali dengan gosip mereka, ketawa-ketiwi kerjanya, lambat gerakannya. Sampai akhirnya…
“Susteeeeeeeer, cepat bertindak! Anak ini skarat! Masalah biaya biar saya yang tanggung semua” teriak Aci marah
Perawat di sana pun memberikan layanan khusus untuk anak tersebut. Tapi Sang Kuasa berkehendak lain, nyawa anak itu tak dapat tertolong lagi. Anak yang positif mengidap kanker darah itu menghembus kan nafas terakhirnya. Si ibu menjerit histeris melihat anaknya tak tertolong. Aci dan Ukhuwa hanya bisa pasrah, mereka melakukan sebisa mereka.
Innalillahi Wa inna ilaihi Roji’un”
Malam menunjukkan pukul 22.35, setelah membantu ibu tadi dengan memberinya segala materi untuk mengurus pemakaman anaknya. Aci dan Ukhuwa berniat pulang ke penginapan. Tapi dalam perjalanan mereka melihat seorang remaja, lagaknya seperti seorang anak pejabat atau semacamnya. Remaja itu sementara berbicara dengan seseorang yang ada dibalik telpon selulernya. Di saat bersamaan datang seorang bapak-bapak yang sedang menawarkan barang dagangannya, ada pernak-pernik lucu untuk cewek dan ada juga kain lebih mirip dengan selendang. Entah karena remaja itu juragan pernak-pernik atau memang tidak punya belas kasihan terhadap sesama

“Pernak-pernik dik? Selendang hijau ini juga sangat cocok dengan kulit adik” ujar si pedagang.
“Ih, pernak-pernik kayak gini, kaga’ cocok untuk aku pak. Ini juga kain pel dijual” kata si remaja.
“owh kalau begitu maaf yah dik mengganggu” kata si pedagang sambil berjalan meninggalkan si remaja. “sombong betul” gumam si pedagang sambil merapikan dagangannya, tapi tiba-tiba. Bruk….!
Si bapak pedagang benturan dengan remaja yang lagaknya tidak jauh beda dengan remaja yang di tawarkan barang tadi
“Jalan tuh liat-liat pak. Asal nubruk ajah!!!” bentak remaja itu tanpa ada sopan santun sedikitpun, mungkin saja mulutnya tidak pernah di sekolahkan
“maaf dik, bapak tadi beres-beres” kata bapak tadi sambil memungut barang dagangannya yang berceceran di trotoar.
“Dasar!!!” bentak remaja sambil menemui teman remajanya yang tadi, yang kelakuannya sama tidak pernah di sekolahkan.
Aci dan Ukhuwa yang melihat kejadian itu pun langsung menuju tempat bapak pedagang tadi untuk membantunya memungut barang dagangan si bapak pedagang.
Setelah kejadian itu, Aci dan Ukhuwa kembali melanjutkan perjalanan pulang ke penginapan.
“Wa’, baru semalam kita mengelilingi kota ini, belum malam-malam berikutnya, kita di perlihatkan betapa kejamnya penghuni negeri ini. Hanya sebagian kecil yang dapat mengerti arti kehidupan”
“He’em, ini baru satu kota. Bagaimana dengan kota yang lainnya ya Ci’?”
“Entahlah”
Aci si Direktur umum di perusahaan ternama merasa sangat hina dan sangat rendah derajatnya, setelah mempelajari kehidupan luar yang sangat jauh beda dari ‘dunianya’. Dia yang berada di dalam kamar penginapan yang menurut orang besar, kamar itu sangat tidak cocok untuknya, merasa sangat miskin setelah menjelajahi kota besar itu. Masih banyak rakyat kecil yang di sembunyikan oleh sebagian orang mengatakan Negeri Langit ini. Aci yang ingin belajar merasakan bagaimana menjadi rakyat kecil itu memiliki keresahan yang masih menyelubungi karena dia belum menemukan teka-teki alam yang telah Tuhan timpakan kepada hambaNya
Mungkin saja Tuhan bosan dengar keluhan penduduk negeri yang terampas ini, hingga membiarkan rakyatnya teraniaya seperti negeri ini. Aci tak tahu dan bahkan tidak akan pernah tahu sampai kapan ini akan berakhir. Hanya detak masa yang memiliki jawaban. Dan detak itu adalah detak jantung rakyat. Aci pun akan tertidur dan berharap ketika bangun nanti, negeri ini kan seelok Negeri Langit dalam pengakuan rakyat kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar