Nurul,
panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan
tomboy itu, sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka
bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.
Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit
ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu.
Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca
yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat
yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi
dengan Nurul?
“Aku
luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk
juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.
“Ih…nggak
nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung
memikirkan SMA mana yang pantas buat dia.
“Hai
Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya
“Dimana
ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan
“Oooo…ya
udah, aku pulang dulu yah”
“Yah,
aku juga dah mau pulang”
Sesampainya dirumah Caca…
Caca
memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam
perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan
seorang Udstazt ntah tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak
lama kemudian Ibu Caca pun memanggil….
“Caca…Ayah
ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”
“Iya
bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.
Akhirnya Caca pun keluar…
“Napa
bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya
“Kamu
lulus?” Tanya Ibunya kembali
“Iya
dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di
sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri
“Alhamdulillah,
ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak
“Kenapa
bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya
“Gini
nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati
“Loh
ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama
kurang bagus
“Diasrama
itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng
teman-teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama
juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu
“Yaaaah
ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya
tersayang
2 bulan telah berlalu, setelah
mengurus semuanya untuk memasuki asrama…
Cacapun memasuki
sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan diserambi-serambi
asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya.
Akhirnya sampai juga….
“Ayah, ini asrama
Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju
“Iya, kenapa?” Jawab
Ayah Caca dan kembali bertanya
“Tidak kenapa-napa ko’,
namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-katanya
menyinggung Ayahnya.
“Jadi ayah tinggal
nih?”Ujar Ayah Caca
“Iya ayah, Caca kan mau
mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda
“Ya Udah, Ayah tinggal
dulu”
“Baik-baik ya anak Ibu,
jangan nakal” Ujar Ibu berpesan
Akhirnya beliau pergi
juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing terhadap
penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa
seperti yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia
senior deh.
“Hai..Siswi baru juga
yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus
“Hai juga..Iyah aku
baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku Salsabila
udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku
dirinya bernama Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.
“Aku Marsya Aqinah,
bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus
yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik
membereskan baju-bajunya kelemari mungilnya
“Ntah lah, orang baru
juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca
“Hai aku Nurul, itu
temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya
plus asal-asalan.
“Woi…aku Caca, bukan
Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun
“Iya..iya.., itu Caca.
Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi
“Aku Miftahul Jannah,
bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun
membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat
bersahabat.
Sekarang Caca tau
kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil
banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap
konyolnya membuat Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada
Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini….
“Rul, ada nomer baru
neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan
sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan
“Ha..ha..ha..ha..ha..ha..,
beritahu aja dari hutan rimba”
“Nurul, aku serius tau”
“Aku duarius,
ha..ha..ha”
“Nurul kamu ngebete’in”
“sori..sori..,gini..kamu
jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa” Ucap
Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’
“Ntar kalo aku termakan
gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan
yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel
“Kamu ini diseriusin
malah becanda”
“Duluan juga kamu Rul,
ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya itu, yakni
dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling
lempar-lempar bantal hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.
“Damainya dunia kalo
mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan mereka
Seminggu
kemudian……..
“Nuruuuul,
tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku
jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca
“Eh
cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang
ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum
“Siplah,
eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca
“Nggak
Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul
“Jomblo,
bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan
“Iya…iya…yang
itulah, he..he..he..” Kata Nurul
“Kamu
harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca
“iya..iya..
Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-angguk
Begitu
seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke
Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan
“Nuruuuuuuuuuuuuul…
bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu
betul-betul memekakan telinga.
“Apaan
sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul
jengkel
“Sori
dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?”
Tanya Caca nutup mukanya sendiri
“Meneketehe…”
Jawab Nurul cuek abis angkat bahu
“Ih
Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata
Caca mengguncang tubuh Nurul
“Caranya?”
Tanya Nurul sambil menguap
“Puji
ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih
“o
iya, ada cara”Kata Nurul tiba-tiba
“Nah
tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum
“Iya
ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun
“Ga
da yang lain yah?” Tawar Caca
“Ga
da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul
kembali menawar sambil bangun dari tempat tidurnya
“Okelah…demi
kejutan” Kata Caca menyetujui
Mereka berdua pun
membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan
apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang
ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang
dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi
membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah
terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget.
Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut
banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca
senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy Nurul punya diary.
“Rul, diary kamu nih?”
tanya Caca
Nurulpun balik
“Iya…diary aku banget”
“Buat aku ya Rul” Pinta
Caca dengan sejuta raut wajah imutnya
“Kamu mau?” Tanya Nurul
“Ya iyalah, ga’ mungkin
dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar
“Ntar aku selesaiin
isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul
“Ayolah Rul” Rengek
Caca yang super manja
“Aku janji Ca, buku tuh
pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji
“Nurul pelit” Kata Caca
ngambek
“Aku kan dah janji Ca”
“Janji yah?” Ujar Caca
meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya
“Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil
mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya
“Iyah…Eh, Rul besok ada
PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian
“Belom, aku nyontek
punyamu boleh?”
“Ya boleh lah”
“Aku juga titip besok
dikumpulin, boleh?”
“Boleh…eh mangnya kamu
mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi
“Anak kecil ga boleh
tau” Jawab Nurul
“Uh…k’ Salsa, Nurul
besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran
“Ga tau juga” Jawab
Salsa angkat bahu
“Berarti k’ Salsa anak
kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan
“Udah, kalian tidur.
Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa
“Eh…Mita dimana k’?”
Tanya Nurul ke Salsa
“Tadi pamit ke asrama
sebelah nginap” Keburu Caca jawab
“Sapa juga yang nanya
kamu?”Tanya Nurul
“O…bukan aku yah? Abis
panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca
“Anak kecil bisanya
ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir
“Biarin…weak…aku bobo
duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat tidurnya
“Akhirnya tenang juga”
Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke tempat
tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam
semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama
kemudian akhirnya tertidur juga sesudah dia merapikan buku diarynya dan
menyimpan dibawah bantalnya.
Keesokan harinya…….
Hari
itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti
kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak
boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti
memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai bel pulang
sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya
angkat bahu.
“Duh
dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet
hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon
“Nomor
yang anda tuju…..” Jawaban telpon diseberang langsung ditutup oleh Caca sambil
berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”
Caca
pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih”
Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik
angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang
sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun dengan muka yang merah
padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju tempat duduk
2 orang tadi.
“Nurul!!!Ical!!!
ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat
terkejut!!! Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang
rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi
kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café itu dan naik
angkot pulang keasramanya.
Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi
setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung mehempaskan diri ketempat tidurnya
sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan
itu, hape Salsapun berbunyi.
“Halo?” Ujar Salsa yang
tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang
“Iyah saya segera
kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas
memberitahukan Caca
“Ca, Nurul lagi……”
Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi.
Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa
alasannya yang jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa
yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape Caca
Triiit…triiit…
Caca mengambil hapenya
dan membaca isi pesan itu
“Ca, Nurul masuk UGD,
kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”
Caca mulai khawatir,
biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang
tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan
Salsa.
Sepanjang perjalanan
Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam,
“Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi
ini lain, Rul. Aku sakit saat aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang
ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja bareng Ical, tapi kamu
ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk
minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”
Sesampainya dirumah
sakit……
Caca langsung berlari
menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut
Salsa.
“Ada apa ini?” Gumam
Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat
Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca.
Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha
mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan
Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang
Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan
menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai
itu, dia lihat disitu ada Salsa dan……
“Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……”
Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat melihat ditempat tidur
diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi,
malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali,
bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan
membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala
tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena
percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa
sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa
yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?.
Sesaat itu ada yang
menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan
adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan
memeluknya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya.
“Nih bingkisan buat
kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota,
aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat
kamu, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas
Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya saat mengetahui apa
isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan
Nurul
“Katanya kamu sangat
menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang
sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah
tanggap tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit
dulu ke kamu sebelum minta bantuan ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan
menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya
kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan
cerita tragis yang menimpa sahabat
mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya
semakin deras.
“Rul, napa mesti kamu
jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi
yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang
juara neh, he..he.., eh aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun
dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kamu
napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah melepaskan
pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk
jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan
memberikan sebuah buku diary milik Nurul
“Kata Nurul, kalo dia
tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar Salsa
Cacapun membuka buku kecil
itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran
berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir.
13
Mei 2003, 01.00 pagi
Dear Diary…..
Aku dah dapet sahabat, kasih sayang
sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu, ini hari
jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan
kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu
untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary,
diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya
sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus
ngasih kamu kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha,
Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku
ngantuk neh…
Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY
FRIENDSHIP”
Nurul
Caca
menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul
akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul
takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak
Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan
dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi.
Esok
harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan,
Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis
dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei
2003”, sehari sebelum hari jadinya.
“Nurul,
sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun
yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu,
istirahat dengan tenang yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian
meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.